Panitia Aneh, Penutupan STQH Nasional ke XXVIII 2025 Justru Menghadirkan Band Ungu, La Ode Hasman: Kecam Keras, Ibarat Air dan Minyak

SOROTSULTRA.com, Kota Kendari-Berbagai polemik menghiasi pelaksanaan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Al Hadist (STQH) tingkat Nasional ke XXVIII di Kota Kendari. Kamis (16/10).

Salah satu kontroversi yang paling menonjol adalah masalah maskot bergambar hewan anoa memegang kita suci dan memakai jilbab yang memicu reaksi keras masyarakat di Sulawesi Tenggara.

Selain itu, tidak adanya pelibatan media lokal dalam pemberitaan di event nasional tersebut. Tak hanya itu, Asosiasi Rental Mobil Sulawesi Tenggara pun tidak dilibatkan dalam pengadaan akomodasi kendaraan roda empat para peserta dan official dari 38 provinsi se-Indonesia.

Yang terbaru, pihak panitia mengundang salah satu band ternama Ibu Kota “band Ungu” untuk mengisi acara puncak pelaksanaan STQH Nasional ke XXVIII pada Sabtu (18/10/25) malam di arena utama Eks MTQ Kendari.

Menelisik persoalan yang telah mencederai event religius ini, salah satu tokoh masyarakat, La ode Hasman, SE., MM., menyampaikan keprihatinannya.

La Ode Hasman. 

“Saya sangat prihatin dengan ulah panitia. Dimana urgensinya penutupan STQH Nasional ke XXVIII di Kota Kendari dimeriahkan dengan konser band Ungu?,” tanyanya.

Baca Juga :  TAKO Sulawesi Tenggara Persembahkan 5 Emas, 5 Perak dan 4 Perunggu di Kejuaraan Piala Rektor IAIN Kendari

Acara STQH Nasional di Kendari adalah syiar Islam yang melantunkan ayat-ayat suci Al Quran dan Al Hadist.

“Saya pun bertanya, dimana hubungannya pengajian Al-Qur’an dan penghafalan hadist dengan lagu-lagu band Ungu. Apakah ada jaminan ketika band Ungu menyanyi akan di pisahkan penonton Laki-laki dan perempuan seperti yang di perintahkan dalam Al Qur’an dan hadist? Ternyata tidak ada jaminan,” ujarnya menyayangkan.

Ia pun menyarankan agar pihak panitia STQH Nasional ke XXVIII mengundang Ustaz Das’ad Latif atau ulama kondang lainnya supaya nyambung dengan marwah kegiatan.

“Jangan campur antara minyak dan air. Karena sampai kapan pun tidak bisa disatukan. Masyarakat bertambah heran dan miris dengan konsep panitia STQH Nasional ke XXVIII di Kota Kendari,” ujarnya.

Mengingat ini kegiatan keagaman maka perlu kiranya acara penutupan diisi dengan hiburan yang nuansa keagamaan seperti, rebana, kasidahan atau sholawatan. (RED)

Komentar