Liangkobori Bukan Milik Ego Siapa Pun

SOROTSULTRA.com, Muna-Popularitas selalu memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia menghadirkan perhatian, dukungan, dan harapan besar. Namun di sisi lain, popularitas juga kerap melahirkan kompetisi yang tidak sehat, yakni perebutan validasi atas sebuah perjuangan.

Hal itu tampaknya mulai mengiringi perjalanan Situs Purbakala Liangkobori. Semakin banyak orang yang berbicara tentang Liangkobori, semakin banyak pula yang ingin diakui sebagai pihak yang paling berjasa. Ada yang merasa paling awal memperkenalkan Liangkobori, ada yang merasa paling banyak berkontribusi, bahkan ada yang secara tersirat ingin ditempatkan sebagai tokoh sentral dalam narasi kebangkitan situs purbakala tersebut.

Fenomena ini sesungguhnya cukup sensitif. Sebab, ketika sebuah warisan budaya mulai diposisikan sebagai prestasi personal, yang terjadi bukan lagi perjuangan kolektif untuk pelestarian, melainkan kompetisi untuk memperoleh validasi sosial.

Pertanyaannya sederhana, apakah Liangkobori membutuhkan pahlawan? Ataukah Liangkobori membutuhkan penjaga?

Situs purbakala yang telah berdiri jauh sebelum kita lahir tentu tidak sedang menunggu siapa yang akan mendapatkan tepuk tangan paling meriah. Ia juga tidak membutuhkan nama seseorang untuk dapat diakui keberadaannya. Liangkobori telah ada sejak ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun silam. Ia akan tetap menjadi bagian dari sejarah Muna tanpa perlu diklaim sebagai milik perjuangan individu tertentu.

Baca Juga :  Gubernur Lantik Pejabat Terdakwa Kasus Tipikor, Diduga Banyak Koneksi dan Relasi

Kita perlu menyadari bahwa popularitas Liangkobori hari ini merupakan hasil dari mata rantai perjuangan yang panjang. Ada masyarakat adat yang selama puluhan tahun menjaga kawasan tersebut. Ada para sesepuh desa yang mewariskan cerita dan pengetahuan lokal. Ada peneliti yang datang melakukan kajian. Ada jurnalis yang menulis dan memperkenalkannya kepada publik. Ada komunitas yang mengampanyekan pelestarian. Ada pemerintah yang mulai memberikan perhatian. Semuanya memiliki peran masing-masing.

Maka, tidaklah bijak apabila perjuangan kolektif itu kemudian direduksi menjadi narasi “siapa yang paling berjasa”.

Dalam dunia pelestarian warisan budaya, ego adalah ancaman yang sering kali luput diperhitungkan. Ego dapat melahirkan polarisasi, memecah gerakan pelestarian, dan menggeser fokus utama dari menjaga situs menjadi menjaga citra diri. Ketika ego lebih besar daripada tujuan bersama, maka yang dipertaruhkan bukan lagi reputasi individu, melainkan masa depan situs itu sendiri.

Popularitas Liangkobori seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi, bukan mempertegas sekat-sekat pengakuan. Tidak perlu ada perlombaan untuk menjadi orang yang paling berjasa. Karena sesungguhnya, semakin besar sebuah peradaban, semakin kecil nama manusia di hadapannya.

Baca Juga :  HUT Ke-65 Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia, IKWI Sultra Perkenalkan Baju Adat Muna, Haspiana: Masuk 10 Besar Terbaik Se-Indonesia 

Barangkali kita perlu belajar dari filosofi warisan budaya itu sendiri. Cagar budaya selalu diwariskan secara lintas generasi tanpa pernah mencantumkan satu nama sebagai pemilik jasanya. Ia hidup karena dirawat bersama-sama.

Oleh karena itu, yang patut kita validasi bukanlah individu-individu yang berada di sekeliling Liangkobori, melainkan nilai dan keberadaan Liangkobori itu sendiri. Biarlah sejarah yang mencatat siapa yang berkontribusi. Tidak perlu dipaksakan melalui klaim, pencitraan, atau kompetisi pengakuan publik.

Pada akhirnya, jika suatu hari Liangkobori diakui sebagai salah satu warisan budaya yang membanggakan Indonesia, publik tidak akan bertanya siapa yang paling berjasa. Publik hanya akan mengingat bahwa ada sebuah generasi yang memilih untuk menjaga, bukan saling berebut panggung.

Sebab, Liangkobori bukan milik ego siapa pun. Ia adalah milik sejarah, milik masyarakat Muna, dan milik generasi yang akan datang. (RED/Novrizal R Topa. Pegiat Literasi di Kabupaten Muna)

Komentar