SOROTSULTRA.com, Kendari-Pertemuan Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) yang berlangsung di kawasan Eks Pelataran MTQ Kota Kendari berakhir dengan kesuksesan luar biasa dan mencatat sejarah baru. Atas pencapaian itu, Rumpun Keluarga Kerajaan Tiworo menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya kegiatan bersejarah ini.
Puncak keberhasilan acara ini ditandai dengan pencatatan resmi Rekor MURI untuk penyajian tradisi adat Dulang terbanyak dalam satu kali penyelenggaraan, yang menjadi bukti nyata kekuatan gotong-royong dan persatuan seluruh keluarga besar masyarakat Muna serta wilayah persekutuan.
Pertemuan ini dinilai sebagai momen yang sangat berharga dan langka, karena berhasil menyatukan kembali tokoh adat, pemangku kerajaan, ulama, pemangku wilayah, serta seluruh elemen masyarakat dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara maupun saudara perantauan dari luar daerah. Semangat kebersamaan ini sepenuhnya berlandaskan pada dua filosofi luhur warisan leluhur:
Pertama, “Koeme Mbada Sumano Liwu”, yang bermakna saling menguatkan, saling menyokong, berbagi kekuatan, dan bersedia berkorban demi kemajuan serta kesejahteraan seluruh negeri.
Kedua, falsafah budaya asli masyarakat Muna: “Dapo pia papiara, dapo angka angkatau”. Secara mendalam, nilai ini mengajarkan dua prinsip utama:
Dapo pia papiara: Bermakna saling memelihara, menyayangi, dan menjaga antar sesama. Mengajarkan kita untuk saling melindungi, tolong-menolong, serta memastikan kesejahteraan bersama agar terhindar dari perpecahan dan konflik;
Dapo angka angkatau: Bermakna saling menghargai dan memanusiakan manusia. Menekankan pentingnya tata krama, menghormati harkat dan martabat orang lain, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam setiap sikap dan perkataan.
Penerapan kedua filosofi ini menjadi landasan moral utama yang menjaga kerukunan di tanah Witeno Wuna, serta menjadi identitas sosial yang kuat menyatukan kita di tengah keberagaman.
Rumpun Keluarga Kerajaan Tiworo berharap agar kegiatan yang begitu positif dan strategis ini tidak hanya berhenti di sini, melainkan ditetapkan secara resmi sebagai agenda rutin pertemuan tahunan yang diselenggarakan secara bergilir di berbagai wilayah. Hal ini penting dilakukan agar semangat kebersamaan terus terjaga, dan setiap daerah memiliki kesempatan sama untuk menjadi tuan rumah sekaligus memperkenalkan potensi budayanya.
“Khusus untuk pelaksanaan tahun-tahun mendatang, kami menyampaikan harapan besar agar tempat pertemuan selanjutnya dapat dipindahkan ke wilayah Kabupaten Muna atau Kabupaten Muna Barat. Pemilihan lokasi ini diharapkan dapat membawa dampak yang jauh lebih luas dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat,” harap salah satu tokoh masyarakat Tiworo, La Ode Husen, SE.
Selain itu, kegiatan ini telah memberikan maslahat yang begitu luas diantaranya:
Dampak Ekonomi: Mendorong perputaran ekonomi masyarakat setempat secara signifikan, seperti peningkatan kunjungan tamu dan wisatawan, peluang pemasaran produk unggulan lokal, serta membuka lapangan usaha dan pendapatan baru bagi pelaku ekonomi kerakyatan, pedagang, dan pengrajin;
Dampak Sosial dan Persaudaraan: Mempererat hubungan kekerabatan secara langsung dengan masyarakat luas, sehingga pesan persatuan, toleransi, dan kesetiakawanan dapat lebih meresap hingga ke pelosok desa dan lingkungan masyarakat;
Dampak Budaya dan Identitas: Mengangkat, meneguhkan, serta melestarikan kembali citra Kabupaten Muna dan Muna Barat sebagai ikon utama identitas, pusat budaya, dan penjaga kearifan lokal rumpun masyarakat Muna.
Dengan penyelenggaraan di tanah Muna nanti, diharapkan semangat persaudaraan yang sudah terjalin dapat semakin kokoh, budaya kita semakin dikenal luas, dan manfaat kebersamaan ini benar-benar dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga para tetua adat. (RED)






Komentar