Banjir dan Macet Jadi Kado HUT Kota Kendari yang Ke-195 Tahun 2026, Sampai Kapan?

SOROTSULTRA.com, Kota Kendari-Tahun 2026 Kota Kendari merayakan hari lahirnya yang ke-195. Usianya yang hampir menyentuh dua abad ini masih menyisakan berbagai macam persoalan yang belum bisa dipulihkan hingga kini. Ahad (10/5).

Persoalan demi persoalan mulai dari tata kelola persampahan, kesemrawutan lalu lintas, penegakan Perda, banjir, kriminalitas, peredaran narkotika menjadi momok yang semakin hari sangat mengkhawatirkan.

Kota Kendari dengan julukan kota bertakwa kini seolah mulai pudar seiring perkembangan zaman. Jargon yang disandang tidak sejalan lagi dengan fenomena sosial yang terjadi saat ini.

Ditengah gegap gempita pelaksanaan dua agenda besar Pemerintah Kota Kendari dibawah kepemimpinan Siska-Sudirman yakni Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Kendari yang ke-195 dan tuan rumah kegiatan UCLG ASPAC 2026, yang  mempertemukan pemerintah kota di kawasan Asia Pasifik itu guna membahas isu pembangunan perkotaan berkelanjutan. Paradoksnya adalah, di saat pemerintah kota berbicara tentang kota modern, tangguh, dan berkelanjutan, mayoritas warga Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara masih berjibaku dengan bencana banjir yang datang berulang setiap musim penghujan tiba.

Baca Juga :  Satgas TMMD Bersama Dinas Pengendalian Penduduk Dan KB, Gelar Sosialisasi Dan Pelayanan KB

Di beberapa wilayah, genangan air tak surut dan menjadi tamu tak diundang di rumah-rumah warga. Jalan poros, lingkungan berubah menjadi aliran sungai berwarna cokelat pekat. Di tengah genangan itu, warga hanya bisa menyelamatkan barang-barang seadanya sembari berharap debit air segera surut. Mengapa persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini belum juga menemukan solusi yang nyata?

Wali Kota Kendari, dr. Siska Karina Imran beserta jajarannya walaupun dalam kondisi hujan pun semalam tetap melaksanakan pesta ulang tahun di eks MTQ Kendari dengan mewah dan menghadirkan artis ibu kota.

Persoalan banjir terjadi setiap tahun, sampah berserakan dimana-mana, kemacetan di mana- mana tidak di tangani. Malah, APBD Kota Kendari digunakan untuk membangun tempat parkir kendaraan di Mapolda Sulawesi Tenggara?

Ada banyak penyebab terjadinya banjir diantaranya ruang hijau sudah minim dengan maraknya izin pengembang perumahan tanpa pengawasan, banyak kali dan saluran drainase yang tidak berfungsi maksimal, ditambah sampah yang menyumbat. Lalu, sampai kapan Kota Kendari menyandang kota langganan banjir? (RED)

Komentar